Kampanye LGBTQ, berbahayakah?
Kampanye LGBTQ, berbahayakah?
Kaum kaum LGBTQ telah banyak mengkampanyekan diri melalui banyak media mulai dari media mainstream sampai pada media sosial seperti Facebook, youtube, tiktok, instagram dan lain sebagainya. Bahkan yg terkini kampanye LGBTQ itu sudah menjurus kepada film yg biasanya di tonton oleh anak anak. Iya kampanye LGBTQ itu sudah menjalar kepada film film kartoon.
Pertanyaannya sekarang apakah kita mesti bersuara keras dan melarang serta menuntut agar film itu diboikot dam dilarang penayangannya di manapun?. Jawaban saya adalah kita tidak perlu bersuara keras, melarang dan menuntut agar film itu diboikot. Karena yg perlu dilakukan oleh orang tua sebagai yg memiliki otoritas atas pendidikan tumbuh kembang anaknya adalah mengawasi dengan lebih ketat agar hal hal itu tidak mempengaruhi pikiran anak anaknya.
Karena kita memiliki otoritas atas hal yg baik dan tidak baik atas diri kita. Dan karena anak anak belum bisa memutuskan maka peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membimbing anak agar tidak salah dalam menyikapi fenomena sosial itu.
Jika pada akhirnya kampanye LGBTQ itu berhasil dan meningkatkan jumlah kaum nya. Bisa dipastikan itu karena kegagalan orang tua dan lingkungan serta masyarakat dalam memberikan nilai moral pada mereka yg akhirnya mengikuti kaum LGBTQ itu.
Namun banyak orang tua dan lingkungan serta masyarakat yg lebih menyalahkan kampanye LGBTQ itu karena merupakan sarana untuk membujuk agar mengikuti jejak mereka.
Itu memang benar, tetapi kita punya pilihan untuk memilih untuk mengikuti mereka atau tidak mengikuti mereka. Kita diberikan akal pikiran untuk bisa memilih.
Kita bukanlah makhluk yg dengan mudah digiring untuk mengikuti sesuatu itu dengan gampang nya kan.
Contohnya seorang anak yg ada di lingkungan perokok, seluruh lingkaran pertemanan nya itu merokok. Apakah Otomatis si anak itu menjadi perokok?. Jawaban nya bisa iya dan bisa juga tidak. Pilihan itu ada pada anak tersebut. Misalnya si anak memilih untuk tidak merokok, apakah anak tersebut akan dijauhi oleh teman2 nya yg perokok. Kemungkinan nya bisa jadi iya tapi bisa jadi tidak.
Jadi semua pilihan kembali kepada masing masing orang...
Kampanye apapun itu tidak akan mempengaruhi pilihan seseorang jika orang itu sudah teguh pada pilihannya. Dan yg bisa merubah pilihannya itu bukan karena gencarnya kampanye tetapi semata mata karena pilihan anak itu. Dan perubahan pilihan itu bisa terjadi karena adanya perubahan persepsi si anak dalam memandang suatu fenomena itu...
Jadi yg harus dilakukan bukanlah melarang kampanye itu. Tetapi perkuat lah nilai moral pada tiap individu...
Dan memperkuat nilai moral merupakan tugas dari orang tua, lingkungan dan masyarakat serta tokoh agama.
Berikut pandangan saya terhadap maraknya kampanye LGBTQ saat ini.
Sekian dan terimakasih...
Komentar
Posting Komentar