Memilih agama hak anak atau orang tua?
Agama itu merupakan hal yang paling prinsipil di kehidupan manusia. Dalam menjalani kehidupannya, Manusia di jaman sekarang diharuskan untuk menganut atau mempercayai sebuah agama. Namun ada hal yg patut untuk diperbincangkan soal agama, Yaitu soal regenerasi.
Regenerasi menjadi suatu hal yg sangat penting. Karena hanya dengan regenerasi sebuah agama mendapatkan eksistensi. Ya, keberadaan sebuah agama itu akan terjamin untuk beberapa tahun bahkan beberapa puluh tahun ke depan. Namun untuk bisa mendapatkan sebuah regenerasi dibutuhkan banyak sekali umat manusia. Dan jika hanya mencoba dengan mensyiarkan agama pada orang orang yg belum beragama atau dengan menaklukan sebuah kota itu tidaklah cukup efektif. Ya, dahulu cara itu dilakukan oleh pemeluk agama Kristen dan Islam. Banyak kota kota yg ditaklukan oleh mereka. Mayoritas penduduknya menjadi pemeluk Agama dr sang penakluk.
Untuk regenerasi umat yg lebih efektif, mulailah dinarasikan untuk menjadikan anak anak sebagai pemeluk agama itu. Anak anak mulai di klaim dari kecil bahwa dia mengikuti agama orang tua nya. Dan cara itu efektif, bahkan diseluruh agama yg ada di dunia mengadaptasi cara tersebut. Paling tidak dengan diajarkan dasar dasar agama sedari kecil, dengan lingkungan dan komunitas serta teman teman yg satu frekuensi. Akan membuat keyakinan tentang agama yg telah dilekatkan padanya tidak akan luntur. Dan agama itu akan menjadi Identitas sang anak. Dan ketika dewasa pun, walau dengan lingkungan yg berbeda akan membuat dirinya tetap berpegang teguh pada agama yg diajarkan orang tua nya tersebut. Hal itu memang baik dan benar.
Namun timbul pertanyaan, apakah jika si anak diberikan pendidikan tentang berbagai macam agama sedari kecil, mungkin kah dia akan menganut agama yg sama dengan orang tua nya?. Dan jika si anak ketika dewasa akhirnya memilih Agama nya sendiri dan berbeda dengan agama orang tuanya, bagaimana kah responnya?.
Hal itu sedikit bisa saya jawab. Setiap orang tua itu ingin yg terbaik untuk sang anak. Dan orang tua yakin dan percaya bahwa agama yg mereka anut adalah yg terbaik buat sang anak dan orang tua itu berkewajiban memastikan hal tersebut, jadi mengajar kan tentang agama2 lain kepada sang anak merupakan hal yg mustahil dilakukan. Jawaban untuk pertanyaan selanjutnya adalah mayoritas orang tua yg setelah dewasa anaknya memilih agama lain. Respon pertama mereka adalah marah, sedih dan kecewa terhadap dirinya karena sebagai orang tua dia tidak bisa mendidik anaknya. Respon selanjutnya adalah dia akan mengusir anaknya dan tidak mengakui anaknya tersebut.
Dan itu merupakan respon mayoritas orang tua ketika mengetahui bahwa anaknya menganut agama yg berbeda dari orang tua nya.
Padahal tidak setiap orang diharuskan memilih hal yg sama. Tidak setiap orang harus menganut dan mempercayai hal yg sama. Disitulah prinsip kebebasan, setiap orang berhak dan bebas melakukan apapun selagi hal itu tidak melukai seseorang secara fisik dan mental. Jadi pilihan tentang agama seharusnya merupakan hak anak yg dilindungi oleh siapapun termasuk oleh keluarga nya sendiri. Namun hal itu sepertinya telah direnggut secara tidak langsung.
Ya, direnggut secara tidak langsung. Karena pada saat ingin membuat kartu Identitas. Si anak berhak memutuskan untuk memilih agamanya. Tapi bagaimana si anak bisa memutuskan agama yg terbaik untuk dirinya. Jika yg dia ketahui hanya 1 agama, yg diajari hanya 1 agama, teman2nya itu 1 agama, keluarganya menganut 1 agama.
Apakah itu sebuah pilihan. Iya itu sebuah pilihan. Tp Itu bukanlah sebuah pilihan yg wajar. Karena dari awal hanya itu yg dia tahu dan circle social nya itu mayoritas seperti itu, Maka mau tidak mau dia pasti memilih agama itu.
Mungkin si anak tidak merasakan masalah apa2 dengan hal itu. Karena si anak tidak dirugikan sedikit pun dari keputusan yg dari awal sudah dibuat orang tuanya. Namun yg harus disadari itu adalah keegoisan orang tua yg telah mengambil hak anak. Hak anak untuk bisa memilih hal yg paling prinsip dalam kehidupannya.
Mungkin inilah penyebab kenapa banyaknya umat beragama yg kualitasnya buruk. Salah satunya bisa dikarenakan regenerasi umat beragama yg lebih mementingkan kuantitas. Dan tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas.
Yg membuat agama pada jaman dahulu itu bisa berjaya adalah karena para penganutnya itu memiliki kualitas yg baik, beragama dengan memahami ajaran ajarannya dengan sangat baik. Punya rasa penasaran dan ingin membuktikan kebenaran agamanya. Namun sayangnya jaman sekarang itu hal seperti itu sangat sulit untuk dilakukan.
Mayoritas umat beragama, melakukan ajaran agama itu hanya didasarkan oleh 1 saja pemuka agama, oleh pemuka agama yg dia senangi. Membenci pemuka agama yg berbeda paham dengan pemuka agama yg dia kagumi.
Umat beragama itu hanya Terima beres tentang apapun hal yg dikatakan pemuka agama nya. Umat sekarang tidak mencerna terlebih dahulu perkataan pemuka agama nya itu. Dan mungkin hal itu akan terus menerus seperti ini. Karena beragama hanya didasarkan pada keturunan bukan berdasarkan pada keingintahuan mencari sebuah kebenaran. Karena berdasarkan keturunan itu membuat umat tidak punya hasrat untuk mencari tahu kebenaran. Karena mereka meyakini bahwa ajaran yg telah diajarkan turun temurun itu merupakan sebuah kebenaran.
Tidak ada yg salah dengan mengambil hak anak tentang pilihan agamanya dan seharusnya tidak salah juga ketika si anak memutuskan untuk memilih agama yg berbeda dari orang tuanya...
Sekian sedikit opini dari saya tentang memilih agama itu hak anak atau orang tua.
Hargailah perbedaan.
Komentar
Posting Komentar